Borobudur, Budha atau Islam?

Dalam kitab suci diriwayatkan Nabi Sulaiman diberikan mukjizat bisa berbicara dengan binatang, selain kemampuannya bisa menundukkan jin. Lagi-lagi di Borobudur bisa dijumpai ukiran relief yang menggambarkan bentuk-bentuk burung, bunga, gajah, babi, kuda, anjing, dan monyet. Juga terdapat relief seorang pria yang terlempar dari kapal besar dan seekor ikan besar siap menelan. 

Selama ini sejarah mengenai Borobudur hanya terpatri pada catatan bahwa biara itu dibangun pada abad ke 8 masehi oleh dinasti Syailendra dan diklaim sebagai warisan kuno umat Budha. Pemahaman inilah yang menjadi pengetahuan buyut, kakek-nenek, ibu.bapak, hingga ke anak-anak kita melalui tulisan-tulisan sejarah yang didasarkan pada pendapat Van Erp sejak tahun 1817. Sayangnya, belum ada penelitian lanjutan untuk menggali kebenaran historis ini. Sehingga wajar jika kemudian, profil Candi Borobudur tetap menjadi hipotesis hingga hari ini. Layaknya sebuah hipotesis (dugaan sementara), maka siapa pun bisa memberikan penafsiran. Hal yang berbahaya adalah jika penafsiran yang dilakukan justru menimbulkan kontroversi, bahkan mungkin dapat menyebabkan konflik di antara agama-agama yang terkait di dalamnya.

Benar saja. Tulisan KH. Fahmi Basya, seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah dalam buku berjudul "Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman" memantik ketakjuban sekaligus juga cibiran atas kesimpulan yang mengatakan bahwa Borobudur adalah warisan Nabi Sulaiman. Meskipun dalam bukunya tidak disebutkan secara tegas mengenai islam, namun mengingat latar belakang penulis dan juga pernyataan-pernyataannya secara terbuka kepada publik, jelas bahwa ada kesan dari penulis yang ingin mengatakan bahwa Borobudur adalah hak umat Islam dan bukannya umat Budha seperti yang selama ini tertulis dalam sejarah. 

Sebagai seorang dosen dan juga (sebagaimana yang diakuinya) seorang pakar matematika Al Qur'an, kesimpulan Fahmi bukan sekadar ucapan seorang yang bangun dari tidur. la mengakui bahwa sebelum berani mengajukan klaim tersebut, ia telah mendahuluinya dengan riset selama 33 tahun. Maka tak heran ia pun mengajukan 40 "bukti kuat" bahwa Borobudur adalah warisan Nabi Sulaiman. Tidak mungkin seluruh bukti tersebut bisa dipaparkan satu per satu dalam tulisan yang terbatas ini. Namun demikian, di antara sekian bukti yang diajukan oleh KH. Fahmi Basya, ada beberapa yang menarik. Jika dihubung-hubungkan dengan logika manusia kita yang terbatas, memang seolah-olah ada benang merahnya, meskipun di lain pihak ''fakta-fakta'' itu masih diperdebatkan.

A. Relief Tabut di Candi Borobudur 
Dalam Al-Qur'an dan juga Injil, tentang Tabut memang dikaitkan dengan kenabian Sulaiman yang diperolehnya sebagai warisan Nabi Daud. Di dalam Tabut, yang berbentuk peti itu konon tersimpan kitab Zabur, Taurat, dan juga tongkat Nabi Musa. Tabut ini memiliki makna sangat penting bagi kaum zionis Yahudi, karena dikabarkan memiliki kekuatan besar untuk bisa menguasai dunia. Tak ada yang tahu di mana peti itu berada. lni menimbulkan persepsi bahwa Tabut berada dalam penjagaan, entah itu oleh makhluk atau oleh kekuatan Ilahiah yang bersifat gaib. Kebetulan rupanya di relief Borobudur terdapat ukiran peti mirip Tabut yang dijaga oleh sejumlah orang. Meskipun sebenarnya itu bisa peti apa saja. 

Relief Tabut di Candi Borobudur.

B. Relief Kisah Keajaiban Nabi
Dalam kitab suci diriwayatkan Nabi Sulaiman diberiikan mukjijat bisa berbicara dengan binatang, selain kemampuannya bisa menundukan jin. Lagi-lagi di Borobudur bisa dijumpai ukiran relief yang menggambarkan bentuk burung, bunga, gajah, babi, kuda, anjing dan monyet. Juga terdapat relief seorang pria yang terlempar dari kapal besar dan seekor ikan besar siap menelan. KH. Fahmi menyamakan dengan kisah Nabi Yunus yang dalam Al Qur'an ditelan oleh seekor ikan paus ditengah lautan.

Relief yang disamakan dengan kisah Nabi Yunus.

C. Kerajaan Ratu Saba Ada di Jawa 
KH. Fahmi Basya dengan sangat percaya diri menyatakan bahwa kerajaan Ratu Saba (atau Ratu Bilqis) bukanlah di Yaman, melainkan di Jawa Tengah, tepatnya di daerah yang saat ini bernama Wonosobo. Acuannya adalah surat QS. Saba (34:15) yang menjelaskan bahwa wilayah Saba dltumbuhi pohon yang sangat banyak (jelas maksudnya adalah hutan). Sementara "Wana" dalam bahasa Jawi kuno berarti hutan. Secara jelas kita paham bahwa penulis ingin mengatakan bahwa Wonosobo = Wana Saba = Hutan Saba, sebagaimana yang disiratkan dalam kitab suci. 

D. Surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Saba 
Dalam QS. An-Naml (27:28) dijelaskan bahwa Nabi Sulaiman berkirim surat kepada Ratu Saba melalui perantaraan burung Hud-hud. Interpretasi KH. Fahmi Basya bahwa surat itu berbentuk lempengan emas sebagai representasi kekayaan Nabi Sulaiman yang sangat besar ketika itu. Menurutnya, lempengan emas itu ditemukan di sebuah kolam Candi Ratu Boko, di daerah Sleman, Jawa Tengah. Tulisan yang ada pada lempengan di candi Ratu Boko (menurut KH. Fahmi) adalah semakna dengan "Bismillahirrahmanirrahiim" (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). 

Dan banyak lagi bukti-bukti yang diajukan oleh KH. Fahmi Basya untuk mencoba meyakinkan bahwa Borobudur adalah milik Islam dan bukan umat Budha. Seperti patung Unfinished Budha (patung Budha yang masih dalam keadaan terbuka) yang ada di Borobudur yang disamakan penulis dengan Unfinished Solomon yang mengacu kepada surat QS. Saba (34:14) yang menjelaskan bahwa ketika laskar jin mengetahui Nabi Sulaiman wafat, mereka menghentikan pekerjaannya (sebelum selesai). 

Entah itu disengaja atau hanya kelalaian sejarah, namun KH. Fahmi Basya sangat yakin untuk menggugat kekeliruan sejarah ini secara hukum. KH. Fahmi Basya tentu memiliki hak membuat kesimpulan atas riset selama 33 tahun yang dilakukannya. Dengan disiplin ilmu matematika Al-Qur'an seperti yang menjadi klaimnya, ia juga berhak mengklaim bahwa ada hubungan sangat dekat antara Borobudur dengan sejarah keagungan Islam pada zaman Nabi Sulaiman. Tapi tentu tak bisa juga disalahkan jika ada yang meragukan kesimpulannya itu. Kritik dan keberatan tidak saja datang dari umat Budha, namun tak kurang dari sebagian umat Islam pun meragukannya, meskipun apa yang disampaikan oleh KH. Fahmi terkesan hendak membesarkan nama Islam melalui warisan agung seperti Candi Borobudur. 

KH. Fahmi bukan seorang sejarawan, atau lebih tepatnya arkeologis yang menjadi disiplin ilmu yang paling bersinggungan dengan situs-situs budaya seperti candi. la juga bukan seorang filologis dan simbologis yang fasih dalam bahasa-bahasa kuno dan makna-makna yang terkandung dalam slmbol-simbol rahasia. Ada tudingan kepadanya bahwa penulis buku itu cenderung melakukan praktik guthak-gathuk alias mengait-ngaitkan sejumlah fakta-fakta yang memiliki kemiripan dan membuat kesimpulan sendiri atas pengkaitan tersebut. Misalnya, ia mengatakan Nabi Sulaiman adalah orang Jawa, karena menggunakan awalan "Su'" yang identik dengan nama-nama orang Jawa. Atau, mengatakan bahwa keberadaan patung,patung Budha di sana adalah wujud surat QS. Saba (34:13) yang isinya memerintahkan para jin membuat patung-patung. 

Keberanian KH. Fahmi Basya mengklaim bahwa Saba berada di Jawa, juga seolah-olah "menampar" para ahli tafsir Al-Qur'an yang meyakini bahwa yang dimaksud Saba di dalam kitab suci adalah di daerah yang bemama Yaman. Demikian pula pemaknaan yang dilakukannya pada lempengan (surat) emas di candi Ratu Boko (berjarak 36 km dari Borbobudur) yang menyamakan dengan makna "Bismillahirrahmanirrahiim". Padahal, di lempengan itu tidak ditulis dalam bahasa Arab, Ibrani atau Aramaik sebagaimana yang biasa ditemui dalam situs sejarah nabi-nabi. Lempengan itu ditulis dalam bahasa Jawa kuno: "Om Rudra ya namah swaha". Artinya memang semakna dengan: "Dengan Nama 'Allah' Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang". Tetapi "Allah" yang dimaksud di lempengan itu adalah "Rudra" yaitu dewa Wisnu dalam konteks keyakinan umat Hindu. Jika ini benar, akan sangat melecehkan jika mengasumsikan dewa Wisnu adalah Allah SWT yang menjadi sembahan umat Islam seluruh dunia. 

KH. Fahmi Basya mungkin saja sekaligus merupakan cendekiawan yang terbiasa dengan logika berpikir ilmiah. Barangkali itu pula yang menimbulkan kecurigaan dari sebagian umat muslim, bahwa apa yang dilakukannya sudah mengada-ada, terlepas dari apakah itu merupakan hasil risetnya selama puluhan tahun atau hanya didasarkan pada hawa nafsu belaka. Ditambah lagi dengan latar belakangnya sebagai pengajar di Universitas Islam Negeri (dulu IAIN = institut Agama Islam Negeri) yang dewasa ini dituduh lebih beraliran liberal, sehingga membuka peluang munculnya pemikiran-pemikiran bebas yang cenderung liar ala barat. 

Bahwa Borobudur masih kontroversial, mungkin benar. Seperti kata sejarawan Ridwan Saidi yang merasa aneh dengan banyaknya kisah-kisah Ramayana yang sangat Hindu dalam sebuah sebuah candi Budha bernama Borobudur. Namun, kesimpulan KH. Fahmi pun tentunya patut untuk diuji lebih dalam. Jika pun apa yang disimpulkannya keliru, paling tidak memang pemerintah perlu melakukan kajian ilmiah terbaru terhadap Borobudur, terutama pada usia bebatuan yang digunakan. Hal ini perlu dilakukan karena ada kesenjangan waktu antara masa hidup Nabi Sulaiman (sekitar 3.000 tahun yang lalu) dengan catatan sejarah warisan Belanda yang mengatakan bahwa Borobudur dibangun sekitar 1.200 tahun yang lalu. 

1 Komentar untuk "Borobudur, Budha atau Islam?"

  1. Memang...hingga saat ini masalah borobudur masih menjadi perdebatan diantara semua elit.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel