Pentingnya Mengelola Keuangan

Uang pada umumnya menjadi magnet untuk melakukan sesuatu. Tengok saja lingkungan sekitar. Anda dapat menemui berbagai jenis perilaku yang berujung pada uang dan semua itu merupakan fenomena sosial yang terjadi pada masyarakat global secara umum dan khususnya masyarakat kita. Menjadikan uang sebagai magnet mengindikasikan adanya kesalahan dalam cara berpikir tentang uang. Pada prinsipnya, uang merupakan alat tukar bagi manusia untuk mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan atau diinginkan. 


Dalam aspek mikro, yaitu pelaku ekonomi individu dan rumah tangga, keberadaan uang merupakan salah satu faktor yang menentukan naik turunnya siklus kemampuan memenuhi kebutuhan hidup. Biasanya satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, sanak saudara, anggota keluarga lainnya, dan juga Anda. Apakah Anda pernah mengamati bagaimana ayah dan ibu, atau Anda sendiri, mencari nafkah? Jika Anda mengamatinya dengan saksama, biasanya mereka memiliki pola-pola pengeluaran yang unik antara satu dengan yang lainnya. 


Ayah, sebagai kepala rumah tangga, biasanya setelah menerima upah akan memberikan uangnya kepada sang Istri untuk dikelola supaya kebutuhan dalam keluarga terpenuhi. Ada juga yang mengaturnya sendiri, seperti membagi-bagi persentase, ini untukmu, ini untukku, dan lain-lainnya. Ada juga yang sama sekali tidak peduli. Penghasilan yang diterima langsung dipakai sesuka hati tanpa perencanaan yang matang. Mungkin juga ada kondisi lain yang Anda alami. Apapun pola pengelolaan keuangan yang Anda lakukan, hanya ada satu kesamaannya, yakni uang merupakan salah satu alat yang memainkan peran penting dalam kehidupan. Uang hanyalah alat, bukan tujuan. Apakah benar begitu? 


Situasi lain terkait dengan uang adalah pengelolaan uang yang salah. Jika Anda salah mengelola uang, maka kekurangan uang pun berpeluang terjadi Sebaliknya, Jika Anda tepat mengelolanya, maka kebutuhan Anda akan terpenuhi, bahkan bisa menyisakan uang untuk ditabung atau diinvestasikan. Belum lagi bila penghasilan Anda atau anggota keluarga yang berposisi sebagai pencari nafkah belum terpenuhi sehingga ada beberapa kebutuhan yang harus ditunda dulu. Dalam kondisi demikian, kebijakan penggunaan uang sepenuhnya adalah pilihan Anda. 


Teman Penulis hidup serba pas-pasan sehingga ada beberapa kebutuhan yang harus ditunda dulu. Namun, sering juga mereka memaksakan diri memenuhi kebutuhan tersebut sehingga berutang, yang membawa konsekuensi besar di kemudian hari. Suatu ketika, anak mereka sakit dan harus dioperasi di salah satu rumah sakit ternama. Dalam kondisi demikian, teman tersebut begitu resah karena tidak memiliki cukup uang untuk mengobatinya anaknya yang sakit. Kondisinya pun semakin parah karena hanya mendapatkan pinjaman setengah dari yang ia butuhkan, meskipun ia telah mencari kian kemari. Masalah tersebut membuatnya kehilangan stabilitas. Kebetulan bos di kantornya mau meminjamkan uang padanya. Akhirnya, pengobatan anaknya pun dilakukan dan berhasil. Namun, Ia dililit masalah baru, yaitu bagaimana harus mengembalikan uang pinjaman yang begitu besar. 


Kisah lainnya, ada keluarga Penulis yang dengan penghasilan berkecukupan, mungkin berlebihan, untuk membiayai kebutuhannya. Suatu ketika saudara Penulis Itu membuat keputusan untuk mengikuti tabungan pendidikan milik salah satu bank swasta di Indonesia. Tujuan memiliki tabungan Itu adalah membiayai biaya pendidikan anaknya di kemudian hari. Salah satu langkah strategis, bukan? Hanya saja ada yang dilupakannya, yaitu mengerem perilaku belanja yang kadang-kadang berlebihan. Jadi, walaupun memiliki tabungan pendidikan, keluarga ini tetap saja masih kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan sebulan. 


Dalam kedua kisah di atas, Penulis hendak menunjukkan bahwa mengelola keuangan pribadi (personal finance) tidak dapat dilepaskan dalam likaliku kehidupan. Apalagi di abad 21 ini, pengelolaan, keuangan pribadi menjadi suatu keharusan, jika tidak akan membawa konsekuensi besar dalam menjalani kehidupan. Ungkapan terkenal dari seorang tokoh keuangan, Hersh Shefrin, berbunyi: saat ini seni mengelola keuangan menjadi keharusan bagi siapa pun, hanya saja kesadaran itu masih jauh dari yang diharapkan karena ada rumah tangga yang merasa memiiki kelebihan uang dan ada juga yang merasa kekurangan uang. Implikasinya adalah Anda harus mempelajari dan menerapkan keuangan pribadi dengan tepat. 


Jika Anda tidak mempelajarinya dengan cermat, maka peluang akan kesalahan mengelola uang menjadi sangat relevan dalam hidup Anda. Bukankah Anda menginginkan hidup yang indah? Namun, jangan takut apalagi gentar dengan persoalan keuangan serta perkembangan pola pengelolaan keuangan pribadi karena Anda tidak mengalaminya sendirian, bahkan ada yang kasusnya lebih parah. Salah satu contohnya terjadi di negara lainnya, yang katanya negara adi kuasa. Namun, dalam aplikasi keuangan pribadi, negara Ini mengalami hal yang sama atau relatif sama dengan masyarakat negara kita, yaitu sikap hedonis dan konsumiif. 


Mengapa? Bersikap hedonis akan menghambat perilaku keuangan yang tepat. Ketika Anda memiIiki sikap hedonis, maka tujuan Anda hanyalah bersenang-senang saja dan tidak mau melakukan yang kebalikannya. Dalam konteks Inilah uang yang dimiliki hanya untuk bersenang-senang saja, seperti membeli apa saja yang diinginkan dan apabila tidak mencukupi uang yang dimiliki, berutang atau bahkan merampok menjadi alternatif. Ironis, bukan? 


Tidak hanya itu saja, orang-orang dengan perilaku hedonisme biasanya tidak sabar menunda kesenangan sehingga apa pun yang dilakukan fokus hanya pada waktu sekarang. Masa lalu hanyalah untuk pembelajaran dan masa depan untuk diperbaiki. Lebih parah lagi jika sikap hedonis ditambah dengan sikap konsumtif. Ironisnya, orang yang bersikap seperti itu menjadikan produk yang dibeli sebagai salah satu hal yang menunjukkan keakuan diri. Artinya, 'aku bisa diukur dengan kepemilikan barang-barang atau kekayaan', Bila hal ini terjadi terus menerus, bukan tak mungkin kebangkrutan beserta efek sosial lainnya berpeluang terjadi. 

Seseorang berpenghasilan 3 juta rupiah dalam satu bulan, sementara pengeluarannya sebesar 3-5 juta rupiah sebulan. Bukankah orang Ini sudah dapat dikatakan bangkrut karena ia sudah tidak mampu mendanai kebutuhan-kebutuhannya? Bila Ia tidak mau berubah, kondisi keuangannya akan menjadi kacau. Bila hal ini dibiarkan terus terjadi, la mungkin saja berbuat nekat, seperti merampok, mencuri, menodong. korupsi, dan lainnya. Perlu diingat bahwa kondisi dapat mendorong terjadinya perilaku tertentu. 


Itu sebabnya, kebijaksanaan mengelola uang dalam tataran mikro benar-benar membutuhkan konsentrasi dan kesadaran, serta diikuti aplikasi nyata. Bukankah para pemenang menganggap 80% dari takdir ditentukan oleh keputusan dan tindakan kita, sedangkan 20% sisanya adalah faktor keberuntungan saja? Apabila Anda masih kurang percaya, cobalah hanya duduk saja atau bergosip ria setiap hari. Apakah Anda akan mencapai kebebasan keuangan? Sudah pasti jawabannya adalah tidak Maka, apa yang harus Anda lakukan? Anda harus membenahi seni mengelola keuangan melalui akumulasi pengetahuan keuangan. Bagaimanapun, akurmulasi pengetahuan keuangan akan memudahkan Anda untuk memikirkan banyak ide dari membuka Cakrawala Anda sehingga seni mengelola keuangan Anda akan semakin bagus. 


Salah seorang konsultan keuangan bemama Anatoli Karvof memiliki moto: iman dan ilmu merupakan harta paling berharga. Melalui iman, Anda akan semakin memahami Pencipta Anda dan sumber berkat Anda, sedangkan ilmu untuk membuka cakrawala, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari tidak sadar menjadi sadar, dari kesalahan menjadi kebenaran, dari kebodohan mernjadi cerdas. Singkat kata, dari tidak sejahtera menjadi sejahtera. Sungguh Indah, bukan? Apakah Anda juga mampu meyakini atau berpikir positif tentang mengelola uang? Saya berharap Anda bisa menyadari pentingnya mengelola keuangan Langkah awal untuk memperbaiki atau memicu kesadaran mengelola keuangan Anda dengan tepat adalah dengan menambah pengetahuan Anda. 


Setelah melihat banyaknya rumah tangga yang berjuang keluar dari kemiskinan dan konsumen yang tidak cerdas, mantan Gubernur The Fed (The Federal Reserve, sebuah lembaga federal yang mengendalikan inflasi dan nilai tukar, ed), Alan Greenspan, berkomentar: mengelola uang merupakan salah satu strategi mencapai kebebasan dengan menjadikan diri Anda semakin cerdas mengelola biaya kebutuhan sehari-hari, cerdas dalam berutang, cerdas sebelum mengeluarkan uang. dan lain-lainnya. Satu kesimpulan dari perkataannya: entah sekarang atau nanti, Anda akan menyadari pentingnya mengelola uang. Itu merupakan hak Anda. Namun, perubahan besar yang tengah bergejolak dalam dunia kita ini mengharuskan Anda untuk segera membenahi pola keuangan. Salah satu caranya adalah mengisi hidup Anda dengan pengetahuan keuangan. 


Renungkan analogi berikut. Dalam sebuah keluarga ada anggota keluarga yang sakit berat dan membutuhkan jumlah uang yang banyak untuk pengobatannya. Dalam kondisi Itu, Anda tidak memiliki cukup uang. Apa yang ada dalam benak Anda saat itu? Apakah Anda akan bersedih? Apakah Anda akan duduk berpangku tangan? Ataukah Anda akan berusaha meminjam sana-sini? Ataukah Anda akan berutang pada bank? Ataukah Anda akan menggadai perhiasan yang dimiliki? Berpikir untuk merampok bank? Apakah menjambret bisa menjadi jalan keluar? Ingin meminta bantuan keluarga Anda yang lain? Dan beragam cara lain yang ingin dilakukan? 


Kondisi demikian memang akan menyulitkan Anda: di satu sisi Anda membutuhkan uang dan di sisi yang lain, Anda tidak tahu caranya. Lalu, bagaimana sikap Anda? Jangan menunggu hingga masalah keuangan datang! Cegah masalah tersebut dengan berpikiran terbuka (open mind). Caranya? Melalui upaya sungguh-sungguh untuk meningkatkan melek keuangan dan semakin cerdas mengelola uang. 


Contoh lainnya, rumah Anda tiba-tiba saja terbakar dan sayangnya tidak diasuransikan. Apa yang Anda lakukan? Siapa pun juga pasti kebingungan Jadi, sekali lagi tingkatkan melek keuangan melalui tekad yang kuat. Baik Individu maupun rumah tangga sering mengabaikan kondisi-kondisi darurat seperti ini sehingga jika sungguh terjadi, banyak orang hanya panik. Tentu saja, ini bukanlah solusi, melainkan memperberat kesulitan yang Anda hadapi. 


Penulis pernah mengalami satu hal buruk ketika salah mengelola uang. Kala itu, Penulis menggunakan uang bulanan untuk berpergian ke luar kota. Tiba-tiba saja, Penulis butuh membeli buku dan fotokopi guna menunjang pendidikan Penulis. Kondisi tersebut membuat Penulis menjadi resah. Penulis belajar bahwa kesalahan tersebut disebabkan ketidaktahuan mengelola uang. Langkah selanjutnya adalah berupaya untuk memperbaiki diri melalui akumulasi pengetahuan dan perlahan tapi pasti mengalami perubahan, Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda pernah mengalaminya juga? 


Ingatlah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Begitu sampai pada tahap "mengobati", Anda sudah terlambat. Anda sudah terkena masalah dan mungkin saja kebingungan harus berbuat apa. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, Anda biasanya membutuhkan biaya lebih, yang seharusnya dapat dihindari. Kabar baiknya, apabila Anda berjiwa besar, Anda dapat belajar dari kesalahan tersebut Meminjam Istilah kesehatan, bukankah biaya pengobatan lebih besar daripada biaya pencegahan? Anda pun dapat menikmati hidup lebih baik. 


Apakah Anda masih kurang yakin juga? Ada teman Penulis yang mampu menghasilkan banyak uang dari pekerjaannya sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta dan konsultan manajemen ternama, Dalam kondisi itu, ia tidak lupa mengelola uangnya dengan cerdas sehingga akumulasi aset keuangannya banyak Ketika ia jatuh sakit dan membutuhkan biaya yang besar, ia telah memiliki jaring pengaman keuangan yang bagus sehingga mampu membiayai pengobatannya. 


Setelah ia sembuh, Penulis berbincang dengannya dan bertanya bagaimana ia Mampu membiayai pengobatannya yang sangat mahal itu? Apakah ia mendapatkan warisan dari orangtuanya? Atau karena ia mampu mengelola keuangan dengan tepat? la memberikan jawaban yang terakhir. Is mengatakan bahwa ia mampu mengelola keuangan secara strategis karena memiliki pengetahuan keuangan. Pengetahuan Itulah yang memicu sikap proaktif untuk mengelola keuangan dengan bijak. 


Dari beberapa kasus sebelumnya, kesadaran mengelola uang wajib dilakukan oleh siapa saja. Tentu saja yang menerima manfaatnya adalah Anda sendiri. Karena itu, kepedulian untuk meningkatkan melek keuangan tidak dapat ditunda-tunda lagi. 


Seorang pakar keuangan, Dan Benson, berujar. “Jangan melakukan kesalahan fatal dan berpura-pura budak melakukan kesalahan, karena suatu waktu hal itu akan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan Anda." Jadi, mengenali kesalahan yang Anda lakukan merupakan salah satu Indikator manusia melek keuangan 


Director-General of the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation, Koichiro Matsuura mengatakan bahwa literasi bukan hanya saja menyangkut keahlian berpikir dan membaca melainkan menyangkut proses pembelajaran (learring) dan keahlian hidup (life skill) yang akan digunakan manusia, komunitas, ataupun suatu bangsa untuk bertahan dan secara berkelanjutan mengalami perubahan. Dengan kata lain, tanpa literasi, suatu bangsa, komunitas, ataupun manusia akan kesulitan untuk tetap bertahan hidup.


Dapat dibayangkan apabila Anda tidak melek keuangan (financial literacy), Anda kekurangan salah satu pembelajaran dan keahlian hidup. Apakah Anda menyukainya? Pasti tidak. Karena itu, tentukan sikap tegas yang diiringi niat kuat untuk melek keuangan sekarang juga. Jika tidak, Anda akan kesulitan mengimbangi kecepatan perkembangan keuangan karena masih menggunakan pola pikir keuangan lama Apakah Anda mau seperti itu? 


Khusus bagi yang sudah berkeluarga, apakah Anda ingin menurunkan pola pikir lama tersebut kepada anak-anak Anda sehingga mereka pun ahirnya bernasib sama seperti Anda? Sebagai orang tua yang menginginkan anak-anak mereka tumbuh berkembang menjadi manusia berkarakter di era global, sudah sepantasnya Anda membekali mereka sekarang juga dengan melek keuangan. Kelak mereka akan menjalani hidup yang jauh lebih baik daripada Anda karena mereka akan hidup dalam kondisi kebebasan keuangan. Anda sebagai orangtua pasti setuju akan hal Itu, bukan? Jadi awalilah dari diri Anda sebagai orangtua yang melek keuangan. Anda tak mungkin dapat mendidik dan memberi contoh buah hati Anda menjadi melek keuangan apabila Anda sendiri tidak melek keuangan. 


Sedangkan bagi Anda yang merupakan pengantin baru yang tidak melek keuangan, kondisi tidak melek keuangan dapat memengaruhi pola hubungan dengan pasangan Anda. Ya, mungkin saja, karena apabila Anda dan pasangan tidak melek keuangan, maka secara psikologis, hubungan antara Anda berdua dapat mengalami ketidakharmonisan. Hal itu yang membuat Anda tidak nyaman sehingga menekan pikiran dan perasaan Anda untuk menikmati hidup. Dalam konteks ini, siapa yang salah? Apakah Anda ataukah pasangan Anda? Ataukah Anda berdua yang sama-sama keliru mengelola uang? Lalu, apakah keputusan menjadi melek keuangan merupakan keputusan yang tepat? Andalah yang memutuskan. 


Kisah lainnya. Misalnya, Anda telah bekerja keras dan pasangan Anda tidak tahu bagaimana cara mengelola penghasilan dengan benar sehingga Anda berdua tidak dapat menikmati hasil jerih payah kalian. Mungkin saja kehidupan Anda berdua dililit utang lagi. Dalam kondisi demikian, apakah Anda dapat mengatakan bahwa Anda tidak membutuhkan peningkatan melek keuangan? Ingatlah bahwa melek keuangan akan mendorong kecerdasan Anda untuk cerdas berutang dan membuka cakrawala Anda untuk tidak jatuh dalam rayuan pemberian barang-barang diskon sehingga tidak serta merta melihat ada barang diskon dan langsung membelinya tanpa dipikirkan secara cermat. Apakah Anda pemah mengalaminya? Dan apa keputusan Anda saat ini? Apakah meningkatkan melek keuangan bermanfaat? Pasti jawabannya 'ya'. Karena itu, sekali lagi beranilah dan bertindaklah sekarang untuk berinvestasi dalam melek keuangan. 


Bukankah sebuah botol air apabila diisi setetes demi setetes akan penuh juga? Hal yang sama juga terjadi ketika memicu kesadaran mengelola keuangan. Awalnya akan terasa berat, tetapi lambat laun akan menjadi sadar juga. Dengan demikian, jadikan seni mengelola keuangan sebagai kendaraan Anda untuk mencapai kesejahteraan. Anda dapat mengawalinya dengan belajar tentang pengetahuan keuangan.

Belum ada Komentar untuk "Pentingnya Mengelola Keuangan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel