Menuju Keuangan Organik

Hari pertama puasa dan malam itu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Suasana masih hening sampai saya dikagetkan kemunculan sebentuk telapak tangan kecil dengan jari-jari tak lengkap menampar-nampar kaca mobil. 

Saya mencoba mencari si pelaku, tetapi yang terlihat hanya ujung kepala berambut tipis dengan mata besar ingin tahu Rp1.000 segera berpindah pindah, jumlah yang sama sekali tak besar bahkan termasuk recehan. 

Namun, si peminta berlari kegirangan sampai nyaris keserempet motor. "Puas?" pria di sebelah saya menegur dengan suaranya yang dalam. Nada suara yang saya tahu hanya keluar ketika saya tidak disiplin. "Bukan berapa yang kamu beri, tetapi bagaimana kamu mem-berikannya". Ah... kalau memberi saja harus bertanggung jawab, bagai mana dengan berbelanja? Zaman sekarang ketika tren "hijau" sedang menjadi perhatian membuat kita makin memikirkan tentang penggunaan uang dan dampalmya terhadap lingkungan sosial dan alam. 

Serba hijau dari uang 

Tak Iebih dari sebulan yang lalu kami mengikuti Green Banking Expo di Jakarta. Sebuah perhelatan yang menggelar edukasi dan sosialisasi seputar peranan perbankan dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan. 

Acara yang diselenggarakan sebuah radio yang mengusung edukasi gaya hidup ramah lingkungan ini juga didukung oleh Bank Indonesia. Terlihat hanya dua bank komersial yang hadir, satu bank pemerintah dan satu bank swasta asing. 

Mereka mengaku telah menyalurkan pinjaman ke bisnis-bisnis yang ramah lingkungan, bahkan untuk kegiatan operasional banknya pun sudah menerapkan efisiensi energi dan pengelolaan sampah di kantornya. 

Walaupun konsep green banking masih wacana di sini, tetapi kesadaran global sudah sejak lama terbangun terutama di negara-negara maju. Jika Anda iseng-iseng googling dan mendapati pinjaman tanpa bunga tetapi dibayar dengan menanam pohon, itu hanya bisa Anda temukan di green finance. 

Syaratnya pinjaman digunakan untuk membiayai bisnis-bisnis yang memiliki visi pelestarian lingkungan. Bentuk usaha apapun yang dijalankan secara ramah lingkungan bisa mendapatkan pembiayaan. 

Keuangan organik 

"Kalau melihat duit matanya langsung ijo". Ini biasanya ungkapan yang sering digunakan buat orang yang mata duitan alias materialistis. Tentunya bukan ini yang dimaksud green banking maupun green finance. 

Serbahijau dengan keuangan adalah mengenai bagaimana kita bertanggung jawab dengan penggunaan uang kita, sebuah konsep yang juga diusung oleh perencanaan keuangan. Bagaimanapun sebagai makhluk hidup kita tidak bisa hidup sendiri, pasti bergantung pada ciptaan Tuhan lainnya. Dan yang pasti bergantung total kepada sang Pencipta. 

Itulah mengapa dalam menggunakan uang juga harus memikirkan dampaknya secara sosial dan juga lingkungan. Jika kita merusaknya, pada akhirnya akan merugikan diri kita sendiri. 

Pada dasarnya segala bentuk musibah dan bencana terjadi karena ulah manusia sendiri. Sayangnya kerusakan yang disebab kan oleh segolongan tertentu hampir selalu mengorbankan orang lain yang tidak bersalah. Kesadaran sebagai makhluk hidup inilah yang menimbulkan ide organic finance atau keuangan organik. 

Secara umum fondasi filosofis keuangan organik adalah bahwa uang tidak hanya duduk dan menghasilkan lebih banyak uang dengan sendirinya. Untuk tumbuh, uang harus diusahakan dalam usaha produktif yaitu kegiatan ekonomi yang sebenamya, baik barang maupun jasa. Anda harus memiliki bangunan yang benar-benar dibeli, memiliki layanan jasa yang nyata-nyata diberikan, atau barang yang benar-benar dijual. 

Organik berasal dari kata organisma atau makhluk hidup. Kita sebagai manusia adalah salah satu jenis mahluk hidup, dimana untuk bertahan hidup paling tidak kita membutuhkan kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan. 

Kita juga membutuhkan pendidikan sebagai kebutuhan sekunder dan kesenangan hidup lainnya dalam kebutuhan tersier kita. Dalam tingkatan yang paling tinggi maka aktualisasi diri menjadi kebutuhan individu yaitu berupa kepuasan batin. 

Kesemua kebutuhan tersebut hanya bisa dicapai jika kita menyadari keharusan untuk selaras dengan sekeliling kita agar kita bisa selaras dengan sang Pencipta. Tidak mungkin kita mendapatkan kepuasan batin yang sebenar-benarnya jika kita berbuat buruk kepada sekeliling kita. Uang menjadi komponen penting, sebab segala kebutuhan hampir selalu harus dibeli. 

Perencanaan keuangan organik kalau begitu sebuah perencanaan keuangan yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan kita dengan cara yang selaras dengan fitrah kita sebagai mahluk hidup. Karenanya dalam keuangan organik, bagaimana cara mendapatkan uang yang baik dan bagaimana membelanjakannya dengan baik adalah esensial. 

Perencanaan keuangan organik dimulai dari proses mendapatkan sumber penghasilan melalui aktivitas bekerja atau usaha yang baik. Berarti dari proses awal sampai akhir baik dari aktivitasnya, materi yang digunakan, konsep usaha, kontrak usaha, promosi, dan lain-lain harus selaras dengan alam. 

Tidak diperkenankan menzalimi orang lain dan hanya menggunakan materi yang baik. Dalam menggunakan uang pun menjauhi sikap konsumtif dan tidak berlebihan. Memprioritaskan kebutuhan daripada pemuasan keinginan berdasarkan rencana pembelanjaan (budgeting). Objek yang dibelanjakan pun harus berasal dari material yang baik dan tujuan pembelanjaan pun demi kebaikan. 

Begitu pun dengan pembiayaan, selayaknya ada mekanisme perhitungan tingkat keuntungan yang dikenakan yang menjadi lebih adil baik bagi pihak yang dibiayai maupun yang membiayai. (Mike Rini Sutikno CFP).

BACA JUGA: Tak Asal Gesek

Belum ada Komentar untuk "Menuju Keuangan Organik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel