Bercerai Bukan Akhir Segalanya

Perceraian, perpisahan antara suami dan istri dari ikatan pernikahan. Tidak hanya menguras emosi, tetapi juga memiliki risiko keuangan pada keduanya. 

Rika, seorang ibu rumah tangga dengan dua anak, kepada Bisnis dia berkeluh kesah mengenai perpisahannya dengan suami yang telah bersamanya dalam ikatan perkawinan selama 10 tahun.

Baginya perceraian adalah jalan terbaik dengan banyaknya perbedaan dan adanya orang ketiga di pihak suami, tetapi pasca-bercerai dia bingung bagaimana memperoleh uang untuk membiayai kedua anaknya, apalagi si sulung selama ini belajar di sekolah internasional. 

"Bagaimana ya, apa saya harus minta bulanan dari bapaknya anak-anak. Tapi beberapa bulan lagi dia mau menikah lagi dan segera punya momongan," ujarya baru-baru ini. 

Keluhan Rika ternyata bukan satu-satunya masalah yang dihadapi perempuan pasca bercerai. Masalah keuangan dan kurang percaya diri kalau dirinya bisa mencari nafkah sendiri bahkan menjadi sering menjadi alasan istri bertahan dalam mahligai rumah tangga meski sakit hati karena suami sering punya gandengan muda. 

Judy Lawrence, penulis buku The Common Cents Money Management Workbook mengatakan perpisahan antara orangtua bukan berarti menghilangkan kewajiban terhadap anak mereka, perempuan tidak perlu sungkan terkait hal tersebut. 

Perempuan harus tetap mengalokasikan dana asuransi atau pengeluaran mendadak ketika keluarga pasca perceraian memetakan kembali kebutuhannya. Jika mantan suami lari dari tanggung jawab, maka hal tersebut menjadi prioritas bagi seorang ibu. 

"Buat prioritas mengenai kebutuhan yang harus diutamakan, lalu evaluasi kembali pengeluaran tetap seperti tagihan telepon, Internet, atau TV berbayar. Belanja majalah bisa berhenti sementara," ujarnya.

Penghematan yang dilakukan jangan sampai menghilangkan tabungan jangka panjang. Tabungan hari tua atau pendidikan. Pos pengeluaran ini memang tidak langsung terlihat sehingga sering mendorong orang untuk memotongnya pada saat yang dianggap mendesak. 

Monique Honaman, penulis The High Road Has Less Traffic mengatakan banyak perempuan tidak mengerti mengenai situasi keuangan keluarganya, padahal hal ini akan menempatkan dirinya pada posisi yang cukup rentan jika sesuatu terjadi pada pasangannya. 

"Misalkan, terjadi hal-hal yang tak dipikirkan sejak awal seperti perceraian, mereka harus mengetahui informasi semacam ini untuk melakukan keputusan bijaksana mengenai masa depan anak-anak," ujamya. 

Febiola Aryanti, Perencana Keuangan dari Hijrah Institute mengatakan pada dasarnya perceraian adalah peristiwa yang konsekuensi pada keuangannya besar. Apalagi jika memiliki anak, dan salah satunya, khususnya suami kemudian menikah lagi. 

"Masalah keuangan pasca perceraian sebaiknya diselesaikan melalui musyawarah antara kedua belah pihak. Hak asuh anak yang biasanya diperoleh si ibu tetap tidak menghilangkan kewajiban ayah untuk menanggung biaya hidup anaknya," dia menuturkan. 

Kewajiban finansial bisa dimasukkan dalam proses perceraian di pengadilan agama, terkait harta gono gini dan tunjangan untuk anak. Perlunya hal ini dimasukkan dalam proses di pengadilan agar keputusannya memiliki kekuatan hukum yang mengikat. 

Peneliti dari firma akuntan Wilkins Kennedy di Amerika menunjukan setelah 5 tahun pasca perceraian, penghasilan perempuan turun 9%, sementara penghasilan lelaki naik 25%, karena sulitnya pekerjaan dengan jenjang karier dari gaji tinggi bagi perempuan. 

"Jika si bapak tidak menafkahi, mau tidak mau ibu harus mengambil kendali. Perempuan yang sebelumnya menjadi ibu rumah tangga tidak perlu malu untuk meminta dukungan keluarga dekat sembari menyiapkan diri untuk mandiri," ujar Febiola. 

Langkah pertama, ibu sebaiknya tidak perlu panik dan terpukul secara mental, ingat anak yang harus diberi nafkah. Mendekatkan diri kepada Tuhan dan pasrah merupakan cara terbaik bagi ibu dan anak.

Kedua, petakan dan inventarisasi aset atau harta yang tersisa pasca perceraian seperti rumah, perhiasan khususnya emas, atau investasi di pasar modal yang dibeli atas nama ibu atau diperoleh sebelum pernikahan. Manfaatkan sisa aset dengan optimal, langkah pertama membayar lunas atau mencicil utang yang ditinggalkan suami. Aset seperti rumah juga bisa dijual untuk membeli rumah yang lebih kecil, sisanya untuk biaya kehidupan sebelum ibu memperoleh pendapatan. 

Ketiga, ibu harus memetakan kekuatan sendiri yang bisa menjadi sumber penghasilan, seperti kemampuan bisnis, mulai dari menjadi agen produk tertentu atau kemampuan memasak untuk membuka warung makan sekaligus menerima katering. 

Keempat, ibu dan anak harus mengevaluasi kembali gaya hidup mereka disesuaikan dengan kemampuan pengeluaran saat ini. Kebutuhan primer seperti sekolah sebaiknya jangan dikorbankan. (Fita Indah Maulani).

Belum ada Komentar untuk "Bercerai Bukan Akhir Segalanya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel